ALLAHUAKHBAR !! Bergema Takbir Memecah Suasana Kekalahan Zionis Di Al-Aqsa

ALLAHUAKHBAR !! Bergema Takbir Memecah Suasana Kekalahan Zionis Di Al-Aqsa – Gemuruh takbir memecah suasana di perkarangan Al-Aqsa. Luapan rasa gembira dan kebahagiaan puluhan ribu Umat Islam setelah lebih dari 12 hari bertahan, iktikaf, solat di depan pintu Asbath Masjid Al-Aqsha. Akhirnya kita menyaksikan Zionis Israel melepas Pintu Metal Detektor dan CCTV.

 

ALLAHUAKHBAR !! Bergema Takbir Memecah Suasana Kekalahan Zionis Di Al-Aqsa

Puluhan ribu rakyat dari pelbagai wilayah dari al-Quds dan dari luar al-Quds, Rabu (26/7/2017) malam ikut dalam solat isyak di sekitar masjid al-Aqsha, sebagai bentuk protes terhadap tindakan penjajah Zionis di masjid al-Aqsha.

Selepas selesai solat, pasukan penjajah Zionis bertubi-tubi melepaskan tembakan meriam suara dan gas pemedih mata ke arah para jamaah untuk membubarkan mereka, yang dibalas dengan pekikan takbir dan yel-yel “Birruh Biddam Nafdika Ya Aqsha” (dengan jiwa dan darah, kami berkorban untukmu wahai al-Aqsa).

Dewan Fatwa Palestin yang menjadi rujukan keagamaan, sebelumnya memfatwakan larangan masuk Masjid Al-Aqsha, sampai Israel melepas Pintu Metal Detektor dan CCTV.

Pada pagi Kamis (27/7), Israel mencabut pintu metal detektor dan CCTV. Disambut dengan kegembiraan warga Palestina. Meskipun demikian, warga Palestina satu suara, satu komando, mengikuti arahan ulama, dewan fatwa.

Dewan fatwa memutuskan, bahwa hari ini kaum Muslimin akan masuk ke dalam Masjid Al-Aqsha. Dimulai solat Asar berjemaah hari ini.

Meskipun demikian, kaum Muslimin tidak boleh melalaikan kejahatan Israel ini. Penutupan Masjid ini adalah sejarah baru keganasan Israel menafikan kesucian agama Islam.

Berikut ini Video detik-detik kekalahan Israel di Al-Aqsa yang disambut gemuruh Takbir:

Oleh: Ahmad Musyafa’
Direktur International Aqsa Institut

Sumber: portal-islam.id

Israel Menanti Sang Dajjal

ALLHUAKHBAR !! Bergema Takbir Memecah Suasana Kekalahan Zionis Di Al-Aqsa

Sebelum berdirinya Israel, cukup sulit membayangkan bagaimana senario perang akhir zaman akan berlangsung antara umat Islam dengan Yahudi. Selama dua ribu tahun, orang Yahudi tersebar di banyak tempat. Mereka menjadi kaum yang tak punya ‘rumah’, dan menumpang dari belas kasihan umat lain, terutama umat Islam dan Kristian.

Dari sisi politik, agama Yahudi pun tak disokong kekuatan besar, seperti halnya Islam dan Kristen. Pendek kata, kaum ini tidaklah dihiraukan. Tapi, di penghujung 1800-an, sejarah berjalan cepat.

Sebuah gerakan bernama Zionisme, muncul di permukaan sejarah, dan merancang pembangunan sebuah rumah bagi kaum Yahudi. Tapi, bukan ke sebuah lahan kosong, melainkan ke Darussalam atau Yerusalem, tanah damai tiga agama, yang saat itu masih berada di bawah Khilafah Ustmaniyah.

Sejak 1882 gerakan Zionis ini berulang kali mempengaruhi kaum Yahudi dari berbagai negara, terutama Eropah, untuk kembali ke Jerusalem, dan mendakwa sebagai milik mereka. Lewat Deklarasi Balfour, Inggris pun berjanji membantu pendirian negara Yahudi itu.

Inggris kemudian mengalahkan tentara Khilafah Ustmaniah, dan memasuki Tanah Suci pada 1917. Pada 14 Mei 1948, negara Yahudi pun diketuai oleh David ben Gurion, yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel.

Israel kini menjadi antara salah satu mempunyai kekuatan nuklear di Timur Tengah. Dengan memilik sekitar 60 hingga 200 bom nuklear, Israel merupakan ancaman bagi bangsa-bangsa di Timur Tengah.

Dan, fakta itu pun antara petunjuk  akhir zaman yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya, bahwa Muslim akan berperang menghadapi Yahudi. Messiah Israel memang bukan ‘negara’ biasa. Dia merupakan sebuah petanda, terutama bagi penganut Islam, Kristen, dan Yahudi.

Seperti ditulis pakar eskatologi Islam, Imran Hosein, dalam bukunya,Jerusalem in the Qur’an, Yahudi meyakini restorasi Israel —setelah dua ribu tahun Kerajaan Israel dihancurkan— merupakan satu dari tujuh tanda kehadiran Mahsiah, atau Moshiah, atau Mashiach, atau Moshiach.

Itu adalah bahasa Ibrani dari al-Masih atau Messiah. Tapi, al-Masih yang mereka tunggu bukanlah kedatangan Nabi Isa al-Masih, sebagaimana keyakinan Islam dan Kristen. Mereka menunggu Messiah yang lain. Meski sedang berlangsung, pembangunan semula Israel tersebut belumlah sempurna.

Yang dimaksud restorasi Israel bukanlah sekadar pendirian negara Israel, tapi juga negara dengan luas seperti pada era Nabi Daud, yang merupakan era keemasan Bani Israil. Bahkan, gerakan Zionis saat ini menambahkannya dengan gagasan Israel Raya (Eretz Yisrael), yang membentang dari Delta Nil (yang kini masih dikuasai Mesir) hingga ke Sungai Eufrat (yang kini masih dikuasai oleh Irak), seperti yang tertulis di Kitab Genesis, bahkan lebih luas lagi.

Tanda kedua, dari kehadiran Messiah versi Yahudi, ini, adalah kembalinya orang-orang Yahudi yang semula terpencar (diaspora) ke Tanah Suci (Yerusalem). Tanda kedua ini telah lama berlangsung, dan masih berlangsung sampai saat ini. Terus mengalirnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Israel, membutuhkan tempat tinggal. Dan, persoalan inilah yang sampai saat ini terus menerus menjadi persoalan, kerana Israel terus membangun wilayah baru dan mengusir orang Arab.

Tanda ketiga,  adalah pembebasan Tanah Suci (Yerusalem) dari tangan goyim (sebutan untuk semua orang non-Yahudi). Tanda ketiga ini pun sudah terjadi, tapi juga belum sepenuhnya sempurna. Pada 1948, saat Israel dibangunankan, mereka telah menguasai Yerusalem Barat. Setahun kemudian, Israel menjadikan Jerusalem sebagai ibu kota.

Bahkan, saat itu, parlimen Israel (Knesset) yang semula di Tel Aviv, telah diboyong ke sana. Namun, saat itu, Jerusalem Timur —yang merupakan lokasi Kota Tua Jerusalem, dan merupakan tempat berdirinya tempat penting tiga agama, termasuk Masjid al-Aqsha— masih dikuasai bangsa Arab (Yordania).

Jerusalem Timur akhirnya dikuasai  Israel, setelah Perang Enam Hari pada 1967.Walaupun Israel secara sempurna telah menguasai Jerusalem, dan mendakwa Jerusalem sebagai ibu kota abadi Israel. Namun, sampai saat ini prosesnya masih Belum selesai. Pengakuan Jerusalem sebagai ibu kota Israel itu kerap muncul dalam kempen presiden Amerika maupun ucapan para pemimpin negara Barat, namun sebagian besar negara di dunia belum mengakuinya.

Saat ini, hanya ada dua kedutaan besar yang berada di Yerusalem, yaitu El Salvador dan Kostarika. Sementara, negara-negara lain, belum ada yang berani memindahkan kedutaan besarnya ke Jerusalem. Saat ini pun, ibu kota Israel masih di Tel Aviv.  Status Jerusalem ini, berulang kali menggagalkan proses perdamaian, seperti Pertemuan Camp David pada 2000.

Solusi dua negara (two state solutions) yang menjadi ‘jalan tengah’ yang diakui para pemimpin barat, seperti Barack Obama, juga terbentur masalah Jerusalem. Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, ke Israel dan Palestina, pada 3-5 Januari 2014 lalu, menjadikan Yerusalem juga menjadi satu dari lima isu. Tapi, tetap buntu. Palestin menghendaki Yerusalem Timur kembali ke pangkuannya, seperti sebelum Perang 1967, dan Palestin pun menghendaki Jerusalem menjadi ibu kotanya.

Tapi, Israel menolak, dan menyatakan bahwa konstitusi 1980 negara itu telah menyatakan “Jerusalem, utuh dan menyatu, adalah ibu kota Israel.”

Tanda keempat, adalah kembali dibangunnya Kuil Sulaiman (Haikal Sulaiman atau Masjid Sulaiman). Tanda ini pun belum terpenuhi.Kota Jerusalem telah berada di bawah pendudukan Israel, namun Masjid al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu (the Dome of Rock) masih berdiri. Kompleks Haram al-Sharif ini, berdiri di atas runtuhan Haikal Sulaiman yang dihancurkan Romawi.

Kompleks ini, sampai saat ini masih dikelola Yayasan Wakaf di bawah pemerintahan Palestin dan Jordania. Tapi, senario penghancuran Masjid al-Aqsha itu, hanyalah menunggu waktu. Di atas kompleks itulah direncanakan akan dibangun Kuil Sulaiman. Ini merupakan kuil ketiga.

Kuil pertama dibangun Nabi Sulaiman, sebelum akhirnya dihancurkan Nebukadnezar. Kuil kedua dibangun Cyrus Agung, dan kemudian dihancur kan Romawi. Sedangkan kuil ketiga, menurut keyakinan Yahudi, akan dibangun di masa mendatang, yang menjadi pertanda era messiah (the messianic age).
Tanda kelima, Israel suatu saat akan menjadi negara kuasa terbesar dunia mengantikan Amerika, seperti halnya Kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Dan, ini pun hanya menunggu waktu. Israel antara lain sudah memiliki senjata nuklear, yang merupakan salah satu prasyarat negara kuasa terbesar dunia. Saat ini, yang menguasai percaturan politik dan ekonomi dunia pun orang-orang Yahudi.

Tanda keenam, kuasa terbesar Israel itu akan dipimpin oleh Messiah Al-Dajjal. Dia akan memerintah dari atas tahta Nabi Daud atau dari Jerusalem.

Tanda ketujuh, kekuasaan itu akan kekal hingga kiamat tiba. Persoalannya adalah, siapa messiah yang ditunggu-tunggu oleh orang Ya hudi itu? Lebih dari dua ribu tahun lalu, kaum Yahudi telah menolak Nabi Isa sebagai al-Masih.
Mereka bahkan berkonspirasi dengan penguasa Romawi untuk menyalibnya. Sampai saat ini, orang Yahudi menanggap Nabi Isa sebagai al-Masih palsu (the false messiah), kerana menurut anggapan mereka Nabi Isa telah terbunuh, dan selama hidupnya tidak memenuhi ciri-ciri sebagai alMasih, seperti membangunkan Israel, membangun kembali haikal Sulaiman, mengembalikan bani Israil ke tanah Suci, menjadi raja , dan seterusnya.

Bahkan, orang Yahudi menyampaikan tuduhan-tuduhan keji kepada Nabi Isa dan ibunya, Maryam. Bahwa Nabi Isa adalah anak zina, dan melakukan sihir. Sedangkan ibunya, Maryam, adalah bukan seorang penzina. Setelah peristiwa penolakan Nabi Isa yang merupakan keturunan Nabi Daud sebagai al-Masih tersebut, Tuhan tidak lagi menurunkan nabi kepada Bani Israil.

Dan beratus-ratus tahun, persoalan ini menjadi perdebatan antara kaum Yahudi yang menolak Nabi Isa dengan Yahudi pengikut Nabi Isa. Sampai Nabi Muhammad saw diutus, yang membenarkan Nabi Isa adalah al-Masih yang sebenarnya. Dan, al-Masih akan turun kembali di akhir zaman, menjadi hakimun adil, atau penguasa adil.

Nabi Muhammad telah memperingatkan tentang kedatangan al-Masih Dajjal, yang secara harfiah berarti al-Masih Pendusta. Orang Kristen menyebutnya sebagai anticrists.

“Setelah kaum Yahudi menolak mengakui al-Masih yang asli, yaitu Nabi Isa Putra Maryam, sebuah divine punishment yang paling buruk pun menanti. Ya’juj dan Ma’juj kini membawa orang-orang Yahudi kepada al-Masih palsu, yang akan memimpin mereka dalam petualangan menuju kehancuran,” kata Imran Hosein.

Oleh: Harun Husein

Sumber: republika.co.id

Jika Anda Rasa Artikel Ni Berguna, Silakan Klik Button Like Dibawah. Terima Kasih